04 Mei 2011

Mimpi Sang Pendeta

Alkisah sang pendeta mengembara dari negeri 'atas angin' turun ke negeri 'bawah angin'. Dibawanya sekali gempulan mimpi sebagai bekal di negeri orang. Mimpinya tiada tara bandingan... Itupun jika ingin dibandingkan ia dengan silibus sang jubah hitam di kandang saksi... Nekadnya tiada terlawan lagi. Lantas sang pendeta memunculkan dirinya di negeri 'bawah angin'. Bilangnya "aku sudah biasa dengan angin...negeri ini milik sang perawan durja, harus aku hapuskan kedurjaannya dengan bekal-ku..."

Dampak dari nekad sang pendeta menyebabkan seluruh jelata terkesima. Lalu diteruskan madahnya oleh sang pendeta, "Sang Durja itu pasti durjanya... Aku sendiri menyaksikan kedurjaan Sang Durja itu dari jauh. Percayalah kerana aku sang Pendeta...". Sekalian mata jelata tidak mengerlip tika mendengar setiap baris kata sang Pendeta...walaupun boleh sahaja kelopak mata jelata memberi laluan kepada gegendang telinga menjalankan fungsinya. Melihat kepada reaksi sekalian jelata, sang Pendeta tampak lebih semangat. Sudah pasti atmanya berbisik riang mendendangkan orkestra"Welcome Aboard".

Dalam halusinasi keriangan sang pendita, terdengar suara di celahan sekalian jelata melemparkan persoalan... "Sang Pendeta, apakah bukti sang Durja itu bersifat durja?". Soalan itu terus berdesing singgah ke gelendangan cuping telinga sang pendita. Berkumat-kamit mulutnya mencari jawapan. Dadanya berombak, fikirannya mula gelojak. Lalu, Sang Pendeta bingkas bangun dan berkata :

"Di Negeri Atas Angin, terdapat satu sahaja cara untuk mensabitkan petani sebagai pencuri, menabalkan pencuri sebagai pematuh dikri, melantik buruh sebagai pembunuh dan menjadikan pembunuh sebagai seorang TOKOH... kerna aku juga adalah insan yang ditabalkan Pendeta melalui cara ini..."

Sekalian jelata berpandangan, setiap lirikan mata jelata berpaksikan hairan. Setelah dalam alam kehairanan, sang jelata memandang semula kepada Sang Pendeta yang masih mengurut dagunya dan masih dadanya didabik... Sang Pendeta meneruskan kata-kata keramatnya, "Caranya adalah MIMPI"...

Terkebil kornea sekalian jelata, ada yang mengetap bibir sendiri dan ada juga tunduk pasrah kerna menyangka mimpi itu tiada guna. Sekalian jelata hanya menganggukkan kepala kerana hati mereka kuat mengatakan bahawa mereka hanya rakyat bawah angin yang hanya mendengar khabar angin dari negeri atas angin...



MIMPI ITU INDAH
NAMUN TERKADANG HANYA INDAH KHABAR DARI RUPA

Tiada ulasan: